Cahaya Awwadi melakari Adwa'keindahan dalam coretan.. Keindahan melingkari Adwa'perubahan seorang Mujahidin yang dahagakan ad'din
Foto GaLeri
25 April 2010
Selawat Syifa & Badwi
~~Marilah bersama-sama kita membasahkan bibir dengan berselawat~~
semoga kita sentiasa berada di bawah rahmat illahi..insyaallah...amin...=)
YANG TERLUPA DARI KEIKHLASAN
Ikhlas, suatu kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kaum muslimin. Sebuah kata yang singkat namun sangat besar maknanya. Sebuah kata yang seandainya seorang muslim terhilang darinya, maka akan berakibat fatal bagi kehidupannya, baik kehidupan dunia terlebih lagi kehidupannya di akhirat kelak. Ya itulah dia, sebuah keikhlasan. Amal seorang hamba tidak akan diterima jika amal tersebut dilakukan tidak ikhlas karena Allah.
Allah berfirman yang artinya,
“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (Qs. Az Zumar: 2)
Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan di samping syarat lainnya yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Perkataan dan perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam)”
Apa Itu Ikhlas ?
Banyak para ulama yang memulai kitab-kitab mereka dengan membahas permasalahan niat (dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan keikhlasan), di antaranya Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, Imam Al Maqdisi dalam kitab Umdatul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Arbain An-Nawawi dan Riyadhus Shalihin-nya, Imam Al Baghowi dalam kitab Masobihis Sunnah serta ulama-ulama lainnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut. namun, apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri ?
Ukhti muslimah, yang dimaksud dengan keikhlasan adalah ketika engkau menjadikan niatmu dalam melakukan suatu amalan hanyalah karena Allah semata, engkau melakukannya bukan karena selain Allah, bukan karena riya (ingin dilihat manusia) ataupun sum’ah (ingin didengar manusia), bukan pula karena engkau ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia, dan juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh manusia. Apabila engkau melakukan suatu amalan hanya karena Allah semata bukan karena kesemua hal tersebut, maka ketahuilah saudaraku, itu berarti engkau telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh berkata, “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya.”
Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas ?
Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur’an , haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun ukhti muslimah, ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah. Ketika engkau tersenyum terhadap saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau meminjamkan saudarimu barang yang dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas. Tidaklah engkau lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, engkau tersenyum kepada saudarimu bukan karena agar dia berbuat baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau membantu saudarimu agar kelak suatu saat nanti ketika engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan dibantu olehnya atau tidak pula karena engkau takut dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai saudariku, jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, “Hendak ke mana engkau ?” maka dia pun berkata “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini.” Maka malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang itu pun menjawab: “Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah, malaikat itu pun berkata “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya.” (HR. Muslim)
Perhatikanlah hadits ini wahai ukhti, tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai oleh Allah wahai ukhti ?
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.” (HR Bukhari Muslim)
Renungkanlah sabda beliau ini wahai ukhti, bahkan “hanya” dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di mulut istrinya, apabila dilakukan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Bagaimana pula dengan pengabdianmu terhadap suamimu yang engkau lakukan ikhlas karena Allah ? bukankah itu semua akan mendapat ganjaran dan balasan pahala yang lebih besar? Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita.
Berkahnya Sebuah Amal yang Kecil Karena Ikhlas
Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah, sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat.”
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga karenanya.” (HR. Muslim)
Lihatlah ukhti, betapa kecilnya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga karenanya. Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim)
Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim ? Dan sebaliknya, wahai ukhti, amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya. Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah Al Bahili, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain?” maka Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu pun mengulangi pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasai). Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad, suatu amalan yang sangat besar nilainya, namun dia tidak ikhlas dalam amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak mendapatkan balasan apa-apa.
Buah dari Ikhlas
Untuk mengakhiri pembahasan yang singkat ini, maka kami akan membawakan beberapa buah yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas. Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya. Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah alaihi yang artinya: Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Qs. Shod: 82-83). Buah lain yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas. “ ( Qs. Yusuf : 24). Pada ayat ini Allah mengisahkan tentang penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-faktor yang mendorong beliau untuk melakukan perbuatan tersebut sangatlah kuat. Akan tetapi karena Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh karena itu wahai ukhti, apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan, ketahuilah sesungguhnya hal tersebut diakibatkan minim atau bahkan tidak adanya keikhlasan di dalam diri kita, maka introspeksi diri dan perbaikilah niat kita selama ini, semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Amin ya Rabbal alamin.
***
Penulis: Abu ‘Uzair Boris Tanesia
Muroja’ah: Ust. Ahmad Daniel, Lc.
Artikel www.muslimah.or.id
Allah berfirman yang artinya,
“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (Qs. Az Zumar: 2)
Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan di samping syarat lainnya yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Perkataan dan perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam)”
Apa Itu Ikhlas ?
Banyak para ulama yang memulai kitab-kitab mereka dengan membahas permasalahan niat (dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan keikhlasan), di antaranya Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, Imam Al Maqdisi dalam kitab Umdatul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Arbain An-Nawawi dan Riyadhus Shalihin-nya, Imam Al Baghowi dalam kitab Masobihis Sunnah serta ulama-ulama lainnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut. namun, apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri ?
Ukhti muslimah, yang dimaksud dengan keikhlasan adalah ketika engkau menjadikan niatmu dalam melakukan suatu amalan hanyalah karena Allah semata, engkau melakukannya bukan karena selain Allah, bukan karena riya (ingin dilihat manusia) ataupun sum’ah (ingin didengar manusia), bukan pula karena engkau ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia, dan juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh manusia. Apabila engkau melakukan suatu amalan hanya karena Allah semata bukan karena kesemua hal tersebut, maka ketahuilah saudaraku, itu berarti engkau telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh berkata, “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya.”
Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas ?
Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur’an , haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun ukhti muslimah, ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah. Ketika engkau tersenyum terhadap saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau meminjamkan saudarimu barang yang dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas. Tidaklah engkau lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, engkau tersenyum kepada saudarimu bukan karena agar dia berbuat baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau membantu saudarimu agar kelak suatu saat nanti ketika engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan dibantu olehnya atau tidak pula karena engkau takut dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai saudariku, jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, “Hendak ke mana engkau ?” maka dia pun berkata “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini.” Maka malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang itu pun menjawab: “Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah, malaikat itu pun berkata “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya.” (HR. Muslim)
Perhatikanlah hadits ini wahai ukhti, tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai oleh Allah wahai ukhti ?
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.” (HR Bukhari Muslim)
Renungkanlah sabda beliau ini wahai ukhti, bahkan “hanya” dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di mulut istrinya, apabila dilakukan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Bagaimana pula dengan pengabdianmu terhadap suamimu yang engkau lakukan ikhlas karena Allah ? bukankah itu semua akan mendapat ganjaran dan balasan pahala yang lebih besar? Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita.
Berkahnya Sebuah Amal yang Kecil Karena Ikhlas
Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah, sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat.”
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga karenanya.” (HR. Muslim)
Lihatlah ukhti, betapa kecilnya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga karenanya. Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim)
Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim ? Dan sebaliknya, wahai ukhti, amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya. Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah Al Bahili, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain?” maka Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu pun mengulangi pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasai). Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad, suatu amalan yang sangat besar nilainya, namun dia tidak ikhlas dalam amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak mendapatkan balasan apa-apa.
Buah dari Ikhlas
Untuk mengakhiri pembahasan yang singkat ini, maka kami akan membawakan beberapa buah yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas. Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya. Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah alaihi yang artinya: Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Qs. Shod: 82-83). Buah lain yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas. “ ( Qs. Yusuf : 24). Pada ayat ini Allah mengisahkan tentang penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-faktor yang mendorong beliau untuk melakukan perbuatan tersebut sangatlah kuat. Akan tetapi karena Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh karena itu wahai ukhti, apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan, ketahuilah sesungguhnya hal tersebut diakibatkan minim atau bahkan tidak adanya keikhlasan di dalam diri kita, maka introspeksi diri dan perbaikilah niat kita selama ini, semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Amin ya Rabbal alamin.
***
Penulis: Abu ‘Uzair Boris Tanesia
Muroja’ah: Ust. Ahmad Daniel, Lc.
Artikel www.muslimah.or.id
22 April 2010
The Power of the Dream
catatan ini adalah hasil daripada pembacaan ana dari buku-buku yang berada di pasaran terkini...jua hasil daripada ilmu yang ana pelajari dari orang yang lebih berpengetahuan dan lebih mengetahui daripada ana...
20 Mac 2010
.....YES I CAN....
If you think you are beaten,you are....
If you think you are dare not,you don't...
If you'd like to win,but think you can't...
It's almost certain you won't...
If you think you'll lose,your're lost...
For out in the world we find...
Success begins with a fellow's will....
It's all in the state of mind...
If you think you are outclassed.you are...
You've got to think high to rise...
You've got to be sure of yourself before...
You can ever win a prize...
Life's battles don't always go...
To be stronger of faster man...
But sooner or later...
The person who wins...
Is the one who thinks he can....!!!
19 Februari 2010
BERJIHAD DENGAN ILMU DAN DAKWAH
Berjihad Dengan Ilmu Dan Dakwah
http://an-nawawi. blogspot. com
Sesungguhnya menuntut dan menyampaikan ilmu itu amat besar manfaatnya kepada individu dan masyarakat umat Islam. Menuntut ilmu agama bermula dari aqidah, fiqh, tafsir, akhlak, sehinggalah kepada pemahaman prinsip-prinsipnya yang tulen adalah merupakan suatu tuntutan yang amat besar lagi tinggi keutamaannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa darjat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Mujadilah, 58: 11)
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Ketahuilah bahawa Nabi kamu telah bersabda:“Sesungguhnya Allah akan mengangkat sesuatu kaum dan merendahkan suatu kaum yang lainnya dengan Kitab Suci ini”.” (Hadis Riwayat Ahmad dan Muslim)
Dari sini menunjukkan bahawa menuntut ilmu (mempelajari agama) itu adalah suatu keperluan yang besar yang perlu digalas dan dikuasai oleh setiap muslim.
Ini adalah sebagaimana Allah memerintahkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sendiri supaya berdoa agar ditambahkan ilmu.
“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum disempurnakan penyampaiannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”.” (Surah Thoha, 20: 114)
Ayat ini adalah merupakan satu dalil yang sangat jelas yang menunjukkan berkenaan keutamaan ilmu. Kerana Allah sendiri telah memerintahkan kepada Nabi-Nya agar meminta ditambahkan ilmu.
Di antara sebab-sebab keutamaannya adalah kerana dengan ilmu, manusia mampu mengenal Allah. Dengan ilmu, manusia akan mengerti tujuan sebuah kehidupan. Dengan ilmu, manusia akan mengerti pentingnya konsep uluhiyah dan ubudiyah terhadap Tuhannya. Dengan ilmu, pendirian manusia boleh sama ada berubah atau semakin teguh. Dengan ilmu, manusia mampu memahami agama dari asasnya sehingga ke cabang-cabangnya. Dengan ilmu jugalah, umat Islam akan mampu beramal dengan sempurna. Dengan ilmu juga umat Islam akan memahami perintah dan pesanan Nabi serta para ulamanya.
Di atas kesan-kesan tersebut, manusia menjadi tunduk disebabkan dia mengenal betapa rendahnya diri di hadapan Tuhannya.Oleh kerana itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):
“Sesungguhnya dari kalangan hamba Allah yang paling takut (tunduk) kepada-Nya adalah para ulama (orang yang berilmu).” (Surah Fathir, 35: 28)
Dengan sikap itu juga, umat Islam akan diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke suatu darjat yang tinggi berbanding dengan kaum yang selainnya.
“...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa darjat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Mujadilah, 58: 11)
Orang-orang yang berilmu adalah mereka yang mampu menghadapi kepelbagaian bentuk ujian, rintangan, musibah, serangan, dan syubhat yang mendatang dengan sikap yang penuh tenang dan sabar. Dengan ilmu yang mereka kuasai, mereka mampu untuk membezakan kepelbagaian bentuk permasalahan yang muncul yang sekaligus mampu menentukan pendirian (sikap) dan jalan keluar yang tepat buat dirinya dan orang lain. Ini adalah sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala singkapkan berkenaan peristiwa yang terjadi ke atas Qarun:
“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya di atas kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang sangat ingin kepada kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar memiliki keuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dikurniakan dengan ilmu: “Kecelakaan besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan tidak diperolehi pahala itu, melainkan oleh orang-orang yang sabar”.” (Surah al-Qasas, 28: 79-80)
Allah juga turut menjelaskan bahawa orang-orang yang berilmulah yang mampu memahami dan menganalisa hakikat kepelbagaian permasalahan yang terjadi,
“Dan itulah contoh-contoh yang kami buat untuk manusia, dan tiada yang memahaminya melainkan orang-orang yang berilmu.” (Surah al-Ankabut, 29: 43)
Atas sebab itu jugalah dapat kita fahami bahawa dengannya (ilmu) umat Islam akan pergi berjihad sama ada di medan perperangan mahu pun di medan dakwah. Tanpa ilmu, umat Islam tidak akan mampu memberi sesuatu kepada yang lain, malah Islam itu sendiri tidak akan mampu ditegakkan jika tidak dibawa dengan ilmu. Inilah di antara apa yang ditunjukkan melalui Surah al-Furqon, di ayatnya yang ke-51 dan 52.Ini jugalah sebagaimana apa yang dimaksudkan oleh para ulama, di antaranya imam Ibnul Qayyim rahimahullah yang telah menjelaskan bahawa menuntut ilmu dan menyebarkan ilmu itu termasuk berjihad di jalan Allah. Ini adalah berdasarkan perkataan beliau yang terkandung di dalam kitabnya, Miftahu Daris Sa’adah:
“Menuntut ilmu disebutkan juga sebagai jihad fi sabilillah kerana dengannya agama Islam ini akan ditegakkan, sebagaimana juga agama Islam yang ditegakkan melalui medan peperangan. Jadi, Islam itu ditegakkan dengan ilmu dan peperangan.
Dengan itulah, jihad ada dua jenis:
Pertama: Jihad dengan tangan dan senjata. Jihad jenis ini semua orang mampu turut serta di dalamnya.
Kedua: Jihad dengan hujjah dan bayan (ilmu). Jihad jenis ini merupakan jihad dari kalangan orang-orang yang khusus iaitu dari kalangan ulama. Ini merupakan jihad yang hanya dapat dilaksanakan oleh orang-orang yang menguasai ilmu. Dan jihad kedua ini lebih utama daripada jihad yang pertama. Ini adalah disebabkan oleh betapa besarnya manfaat, tinggi risikonya, dan sangat banyak musuh-musuh yang akan dihadapinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Surah al-Furqon di mana surah ini adalah surah Makkiyyah:
“Dan sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami utus kepada setiap negeri seorang pemberi peringatan (rasul), maka janganlah kamu taati orang-orang kafir dan berjihadlah melawan mereka dengan al-Qur’an dengan jihad yang besar.” (Surah al-Furqon, 25: 51-52)”
Malah jika kita teliti pengertian jihad itu sendiri, iaitu menurut apa yang dijelaskan oleh al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah di dalam kitabnya yang masyhur, Fathul Bari dan Ibnu Manzur rahimahullah di dalam Lisanul Arab, ia sebenarnya mencakupi perbuatan menegakkan hujjah (dengan perkataan atau lisan) terhadap orang-orang kafir dengan cara mendakwahi, menyerang, dan menahan (menangkis hujjah) mereka dengan bersungguh-sungguh serta dengan sepenuh tenaga dan usaha. Dengan ini juga bermaksud, jihad itu tidaklah terhad hanya sekadar turun di medan perperangan, tetapi juga adalah dengan penegakkan hujjah-hujjah ilmiyah kepada kaum yang tidak mengerti dan ingkar.
Berdasarkan surah al-Furqon ayat 51-52 tadi juga sebenarnya ia turut menjelaskan sejak awal-awal lagi bahawa Allah memerintahkan supaya tidak mentaati orang-orang kafir dan supaya berjihad terhadap mereka. Maka, jelaslah di sini bahawa pada fasa tersebut, orang-orang kafir tidak diperangi melainkan dengan hujjah, bayan, dan menyampaikan isi kandungan al-Qur’an itu sendiri dan bukanlah dengan pedang mahu pun ketenteraan semata-mata.Demikianlah juga dengan persoalan orang-orang munafiq yang duduk hidup di bawah kekuasaan umat Islam yang mana Allah turut memerintahkan dengan kalimah jihad kepada umat Islam ke atas mereka.
“Wahai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafiq dan bersikap keraslah terhadap mereka.” (Surah at-Taubah, 9: 73)
Ini adalah sepertimana yang diketahui bahawa orang-orang munafiq itu tidak diperangi dengan pedang, dan mereka juga tidak memerangi umat Islam dengan ketenteraan. Tetapi, mereka (orang-orang munafiq) diperangi di atas nama jihad dengan menegakkan hujjah-hujjah ilmiyah dari al-Qur’an dan perkataan Nabi-Nya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah turut menegaskan di dalam kitabnya yang lain, I’lam al-Muwaqqi’in bahawa ketaatan kepada umara’ (pemimpin) itu adalah mengikuti ketaatan kepada ulama. Maka, menuntut ilmu dan mempelajarinya adalah termasuk jihad di atas jalan Allah.
Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata bahawa, “Sesiapa yang mengatakan bahawa pergi berulang-alik mencari ilmu itu bukan sebahagian dari jihad, maka sesungguhnya akal dan fikirannya telah lemah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr)
Begitulah dia sebuah hakikat yang kian dipandang remeh, padahal ia adalah sebuah tuntutan besar bagi setiap manusia dari kalangan umat Islam. Menuntut ilmu dari ilmu-ilmu agama semenjak zaman-berzaman sehinggalah ke masa ini bukanlah sebuah usaha yang boleh ditinggalkan, bahkan ia adalah sebuah perjuangan yang dengannya umat Islam akan berjihad menegakkan Tauhid bermula dari dalam diri masing-masing sehinggalah ke setinggi-tinggi kemampuan ke atas segenap manusia umumnya.Semoga kesarjanaan ilmu di dalam bidang agama ini mampu ditegakkan dan kembali dipandang tinggi oleh umat Islam seluruhnya. Hanya dengan ilmu umat Islam akan kembali dimuliakan, dan dengan ilmu itu jugalah umat Islam bakal kembali berjihad dengan sebesar-besar jihad.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Sungguh aku mengetahui (menguasai) satu bab dari sesuatu ilmu itu sama ada berkenaan perintah atau pun larangan, ia adalah lebih aku sukai berbanding dengan 70 kali pertempuran di medan jihad.”
(dipetik daripada:http://an-nawawi.blogspot.com)
PENYEBAR SURAT BERANTAI BERSUBAHAT MUSUH ISLAM
Desawarsa ini,terdapat segelintir daripada pihak yang tidak bertanggungjawab menggunakan pelbagai kaedah untuk mendapatkan keuntungan dengan cara yang mudah.Golongan ini tidak lagi mengambil peduli lagi soal hukum agama dan undang-undang,asalkan keinginan mereka tercapai.Mereka ini mengambil kesempatan atas kejahilan serta sikap tidak berhati-hati orang ramai yang mudah tertipu.
Satu cara menipu yang tersebar luas di Negara ini adalah melalui skim cepat kaya yang berbentuk surat berantai atau sms berantai.Sebenarnya isu surat atau sms berantai ini sudah sekian lama menjadi perangkap untuk memerangkapkan umat islam.Perkara ini tampak remeh tetapi sebenarnya surat atau sms berantai ini Berjaya menimbulkan kesan yang negetif yang amat mendalam dalam kehidupan umat islam.
Pelbagai bentuk dan rupa surat berantai yang dikesan wujud sejak berpuluh-puluh tahun lalau dan masih lagi berterusan penyebarannya disebabkan ramai yang mempercayainya,termasuklah umat islam di Malaysia.Sms berantai pula wujud sejak akhir-akhir ini,di mana teknologi serba canggih ini membangun dengan pesat.Ramai orang yang terbabit menyebarkan surat berantai tidak menyedari hakikat bahawa mereka sebenarnya bersubahat dengan musuh islam.Mereka terperangkap dengan taktik licik yang telah dicipta oleh pihak yang mencari keuntungan dengan cara mudah dengan bantuan orang lain.
Justeru ,menjadi satu tanggungjawab sesame muslim untuk saling menasihati antara satu sama lain atau menyebarkan maklumat yang di ketahui supaya dapat mengelakkan lebih ramai yang menjadi mangsa.
Antara bentuk suarat atau sms berantai yang dicipta oleh musuh islam adalah:
Jurukunci makam Saidina Rasul dr Mekah tlh bertemu dgn Rasulullah smbl
berpesan kuat-kuatlah beribadah kerana dunia sudh tua dan goyah. Sebarkn sms ini ke 10 orang, Dalam waktu 10 hari ,dapat rezeki besar. Kalau tak disebarkn maka dapat kesulitan yang tidak ada henti-hentinya. Ini amanah.
(contoh sms berantai,sekadar untuk PERINGATAN)
Surat atau sms ini disebar secara meluas yang mengaitkan mengenai nasib baik dan buruk bagi setiap penerima surat dan sms.
Ternyata kandugan surat dan sms berantai ini bertujuan untuk memesongkan akidah orang islam.Ia berkaitan nasib seseorang ditentukan oleh surat dan sms bukannya kuasa ALLAH.Sesungguhnya,sesiapa yang mempercayai ada kuasa lain menentukan nasib atau kuasa lain selain ALLAH,maka dirinya mempersekutukan ALLAH dengan kuasa lain atau dipanggil syirik.Syirik adalah dosa yang paling berat.Dosa syirik hanya dapat dilakukan dengan cara mengucap kalimah syahadah sebagai tanda memperbaharui kembali keislaman mereka.
Untuk menghurai mengenai penyebaran surat berantai ini terlalu penjang untuk dijelaskan.Oleh kerana itu,ana sediakan titipan daripada majlis fatwa kebangsaan 1978.Diharap agar dapat membuka mata para pembaca sekalian.
Wallahu’alam…
(sumber drpd:buletintarbiah@yahoo.com)
Untuk pengetahuan sidang pembaca sekalian.
Majlis Fatwa Kebangsaan 1978 mengesahkan surat ini ditulis oleh paderi-paderi biara Blessings of St Antonio, Texas, USA pada tahun 1974/75 untuk mengelirukan umat Islam. Penulis asal surat ini ialah mendiang Father Francis Jose de Villa, seorang paderi Katolik dari Argentina berketurunan Arab-Syria (bekas penganut Islam, nama asalnya Mohamed Elias Skanbeg). Dia pernah bertugas di Instituto Sacristo Convocione Reliogioso di Brindisi, Itali sebagai mubaligh Katolik antara tahun 1966-1968di bawah Cardinal Agostino Casaroli. Father de Villa meninggal dunia pada tahun 1980 di Texas dalam usia 54 tahun.
Menurut Allahyarham Sayyed Mohamed Raisuddin Al-Hashimi Al-Quraisy, penjaga makam Rasulullah SAW di Madinah antara tahun 1967- hingga 1979, tidak ada penjaga makam bernama Sheik Ahmad antara tahun 1881 hingga 1979.Penjaga makam di madinah adalah:
• Sayyed Turki Abu Mohamed Abdul Razaque Al-Hashimi Al-Quraisy (1881-meninggal dunia 1932),
• anaknya Sayyed Hashim Abu Faisal Abdul Jalil Al-Hashimi Al-Quraisy (1932-meninggal dunia 1934),
• adiknya Sayyed Abdul Karim Mutawwi Al-Hashimi Al-Quraisy (1934-bersara 1966) dan
• anak saudaranya Sayyed Mohamed Raisuddin bin Mohamed bin Abdul Razaque Al- Hashimi Al-Quraisyi (1967-meninggal dunia 1979).
Bekas menteri besar Perak Allahyarham Tan Sri Mohamed Ghazali Jawi bertaubat dan mengucap kalimah syahadat sekali lagi di hadapan Kadi Daerah Kinta pada tahun 1976 setelah beliau mengaku pernah menerima dan mengirim surat ini kepada dua puluh orang kawannya. Peristiwa ini berlaku tidak lama sebelum beliau meninggal dunia. Bekas Kadi Daerah Kinta meminta beliau mengucap semula kerana bimbang beliau telah gugur syahadah (murtad).
Allahyarham Datuk Shafawi Mufti Selangor mengisytiharkan bagi pihak Majlis Fatwa Kebangsaan bahawa barang siapa dengan sengaja menyebarkan risalah ini adalah "melakukan syirik dan tidak mustahil jatuh murtad melainkan dia bertaubat dan menarik balik perbuatannya itu terhadap sesiapa yang telahpun dikirimkan risalah ini". (Surat Keputusan Majlis Fatwa Kebangsaan Malaysia Bil.7/78/I).
Keputusan ini diiktiraf oleh Majlis Raja-raja Melayu dalam mesyuaratnya di Pekan pada 16 Oktober 1978, dipengerusikan oleh Almarhum Sultan Idris Shah, Perak.
Menurut Majlis Fatwa Kebangsaan 1978, menyebar surat ini "termasuk dalam menyekutukan Allah S.W.T. dengan syirik yang amat besar (shirk-i-kubra) serta mempermainkan Rasulullah S.A.W. serta menyebar dengan niat tidak baik kekeliruan dan muslihat di kalangan umat Islam.". Lagipun,"surat ini menggambarkan pembohongan yang amat besar terhadap junjungan besar Nabi Muhammad S.A.W. serta ajaran baginda kerana menggambarkan SHEIK AHMAD sebagai perawi hadith sesudah kewafatan baginda".
Allahyarham Datuk Sheik-ul-Islam Mufti Kedah dalam Risalat Al-Aman 1983/Bil 8, surat ini "paling kurang menimbulkan syirik kecil dan murtad secara tidak sengaja terkeluar dari Islam, serta syirik yang besar jika sengaja maka taubatnya tidak sah melainkan dibuat dengan sesungguhnya. Adapun jika seseorang itu menyalin surat ini kepada umat Islam lain, jatuhlah hukum ke atasnya mentablighkan perkara syirik dan khurafat. Sesungguhnya ulamak sependapat perbuatan itu sungguh besar syiriknya dan boleh mengakibatkan murtad walaupun tanpa sadar si-pengirim."
(sumber: darulkautsar.com )
Wassalam
Satu cara menipu yang tersebar luas di Negara ini adalah melalui skim cepat kaya yang berbentuk surat berantai atau sms berantai.Sebenarnya isu surat atau sms berantai ini sudah sekian lama menjadi perangkap untuk memerangkapkan umat islam.Perkara ini tampak remeh tetapi sebenarnya surat atau sms berantai ini Berjaya menimbulkan kesan yang negetif yang amat mendalam dalam kehidupan umat islam.
Pelbagai bentuk dan rupa surat berantai yang dikesan wujud sejak berpuluh-puluh tahun lalau dan masih lagi berterusan penyebarannya disebabkan ramai yang mempercayainya,termasuklah umat islam di Malaysia.Sms berantai pula wujud sejak akhir-akhir ini,di mana teknologi serba canggih ini membangun dengan pesat.Ramai orang yang terbabit menyebarkan surat berantai tidak menyedari hakikat bahawa mereka sebenarnya bersubahat dengan musuh islam.Mereka terperangkap dengan taktik licik yang telah dicipta oleh pihak yang mencari keuntungan dengan cara mudah dengan bantuan orang lain.
Justeru ,menjadi satu tanggungjawab sesame muslim untuk saling menasihati antara satu sama lain atau menyebarkan maklumat yang di ketahui supaya dapat mengelakkan lebih ramai yang menjadi mangsa.
Antara bentuk suarat atau sms berantai yang dicipta oleh musuh islam adalah:
Jurukunci makam Saidina Rasul dr Mekah tlh bertemu dgn Rasulullah smbl
berpesan kuat-kuatlah beribadah kerana dunia sudh tua dan goyah. Sebarkn sms ini ke 10 orang, Dalam waktu 10 hari ,dapat rezeki besar. Kalau tak disebarkn maka dapat kesulitan yang tidak ada henti-hentinya. Ini amanah.
(contoh sms berantai,sekadar untuk PERINGATAN)
Surat atau sms ini disebar secara meluas yang mengaitkan mengenai nasib baik dan buruk bagi setiap penerima surat dan sms.
Ternyata kandugan surat dan sms berantai ini bertujuan untuk memesongkan akidah orang islam.Ia berkaitan nasib seseorang ditentukan oleh surat dan sms bukannya kuasa ALLAH.Sesungguhnya,sesiapa yang mempercayai ada kuasa lain menentukan nasib atau kuasa lain selain ALLAH,maka dirinya mempersekutukan ALLAH dengan kuasa lain atau dipanggil syirik.Syirik adalah dosa yang paling berat.Dosa syirik hanya dapat dilakukan dengan cara mengucap kalimah syahadah sebagai tanda memperbaharui kembali keislaman mereka.
Untuk menghurai mengenai penyebaran surat berantai ini terlalu penjang untuk dijelaskan.Oleh kerana itu,ana sediakan titipan daripada majlis fatwa kebangsaan 1978.Diharap agar dapat membuka mata para pembaca sekalian.
Wallahu’alam…
(sumber drpd:buletintarbiah@yahoo.com)
Untuk pengetahuan sidang pembaca sekalian.
Majlis Fatwa Kebangsaan 1978 mengesahkan surat ini ditulis oleh paderi-paderi biara Blessings of St Antonio, Texas, USA pada tahun 1974/75 untuk mengelirukan umat Islam. Penulis asal surat ini ialah mendiang Father Francis Jose de Villa, seorang paderi Katolik dari Argentina berketurunan Arab-Syria (bekas penganut Islam, nama asalnya Mohamed Elias Skanbeg). Dia pernah bertugas di Instituto Sacristo Convocione Reliogioso di Brindisi, Itali sebagai mubaligh Katolik antara tahun 1966-1968di bawah Cardinal Agostino Casaroli. Father de Villa meninggal dunia pada tahun 1980 di Texas dalam usia 54 tahun.
Menurut Allahyarham Sayyed Mohamed Raisuddin Al-Hashimi Al-Quraisy, penjaga makam Rasulullah SAW di Madinah antara tahun 1967- hingga 1979, tidak ada penjaga makam bernama Sheik Ahmad antara tahun 1881 hingga 1979.Penjaga makam di madinah adalah:
• Sayyed Turki Abu Mohamed Abdul Razaque Al-Hashimi Al-Quraisy (1881-meninggal dunia 1932),
• anaknya Sayyed Hashim Abu Faisal Abdul Jalil Al-Hashimi Al-Quraisy (1932-meninggal dunia 1934),
• adiknya Sayyed Abdul Karim Mutawwi Al-Hashimi Al-Quraisy (1934-bersara 1966) dan
• anak saudaranya Sayyed Mohamed Raisuddin bin Mohamed bin Abdul Razaque Al- Hashimi Al-Quraisyi (1967-meninggal dunia 1979).
Bekas menteri besar Perak Allahyarham Tan Sri Mohamed Ghazali Jawi bertaubat dan mengucap kalimah syahadat sekali lagi di hadapan Kadi Daerah Kinta pada tahun 1976 setelah beliau mengaku pernah menerima dan mengirim surat ini kepada dua puluh orang kawannya. Peristiwa ini berlaku tidak lama sebelum beliau meninggal dunia. Bekas Kadi Daerah Kinta meminta beliau mengucap semula kerana bimbang beliau telah gugur syahadah (murtad).
Allahyarham Datuk Shafawi Mufti Selangor mengisytiharkan bagi pihak Majlis Fatwa Kebangsaan bahawa barang siapa dengan sengaja menyebarkan risalah ini adalah "melakukan syirik dan tidak mustahil jatuh murtad melainkan dia bertaubat dan menarik balik perbuatannya itu terhadap sesiapa yang telahpun dikirimkan risalah ini". (Surat Keputusan Majlis Fatwa Kebangsaan Malaysia Bil.7/78/I).
Keputusan ini diiktiraf oleh Majlis Raja-raja Melayu dalam mesyuaratnya di Pekan pada 16 Oktober 1978, dipengerusikan oleh Almarhum Sultan Idris Shah, Perak.
Menurut Majlis Fatwa Kebangsaan 1978, menyebar surat ini "termasuk dalam menyekutukan Allah S.W.T. dengan syirik yang amat besar (shirk-i-kubra) serta mempermainkan Rasulullah S.A.W. serta menyebar dengan niat tidak baik kekeliruan dan muslihat di kalangan umat Islam.". Lagipun,"surat ini menggambarkan pembohongan yang amat besar terhadap junjungan besar Nabi Muhammad S.A.W. serta ajaran baginda kerana menggambarkan SHEIK AHMAD sebagai perawi hadith sesudah kewafatan baginda".
Allahyarham Datuk Sheik-ul-Islam Mufti Kedah dalam Risalat Al-Aman 1983/Bil 8, surat ini "paling kurang menimbulkan syirik kecil dan murtad secara tidak sengaja terkeluar dari Islam, serta syirik yang besar jika sengaja maka taubatnya tidak sah melainkan dibuat dengan sesungguhnya. Adapun jika seseorang itu menyalin surat ini kepada umat Islam lain, jatuhlah hukum ke atasnya mentablighkan perkara syirik dan khurafat. Sesungguhnya ulamak sependapat perbuatan itu sungguh besar syiriknya dan boleh mengakibatkan murtad walaupun tanpa sadar si-pengirim."
(sumber: darulkautsar.com )
Wassalam
16 Februari 2010
BERBAKTI KEPADA IBU BAPA
assalamualaikum ya muslimin...
hati pilu mendengar rintihan rasa seorang ibu dan seorang bapa....yang tinggalkan anak kandung mereka kerana keengganan untuk menjaga cucu..bukan disebabkan ibu bapa ini tidak sayang kepada anak serta cucu-cucu mereka,tetapi kerana ibu bapa ini sudah berusia senja...faktor kesihatan menjadi penghalang mereka untuk terus menjaga cucu-cucu tersayang mereka...tetapi malangnya ibu bapa ini ,apabila dimarahi oleh anak mereka sendiri..bukan sahaja dimarahi akan tetapi anak ini mengungkit perkara yang mengguris hati ibu bapa...sehingga sekarang anak tersebut langsung tidak mengendahkan ibu bapanya apatah lagi untuk menjaga ibu bapa yang sedang sakit...menziarah sahaja tidak mahu...hati ibu terguris....dek kerana tingkah laku anak ini..ibu menitiskan air mata tanpa henti siang dan malam..memaafkan tingkah laku anak yang membuatnya terguris hati...betapa mulianya hati seorang ibu...ayah terlantar sakit..menangis pilu megenangkan anak dan cucu..mengharap agar saat-saat akhir hayatnya ditemani anak serta cucu...akan tetapi...harapan hanya lah sia-sia...anak2 serta cucu tidak pernah menjejakkan kaki di rumah itu lagi...perbelanjaan ibu bapa ditarik balik....menyebabkan ibu bapa terpaksa berkerja untuk menyara kehidupan mereka seharian...beginikah sikap seorang anak terhadap ibu bapa mereka??????????ibu dan bapa boleh menjaga nak yang ramai tetapi anak yang ramai tidak boleh menjaga ibu dan bapa.........inikah balasan seorang anak kepada ibu bapa mereka??? melalui apa yang diperkatakan di atas jelas sekali dapat kita lihat seorang anak tidak berbuat baik terhadap ibu dan bapa mereka..anak ini memaki dan mengungkit segala apa yang pernah mereka berikan kepada ibu bapa mereka...sesungguhnya perbuatan tersebut adalah menderhaka kepada kedua ibu bapa..
agama islam menyeru kepada setiap umatnya supaya berbakti kepada ibu bapa mereka.ini adalah kerana:
allah swt memerintahkan supaya mentaati kedua ibu bapa selepas perintah menyembah allah swt kerana:
jelaslah bahawa perbuatan anak terbabit amat salah di sisi agama islam...bahkan agama2 lain turut menyuruh penganutnya agar tidak mengabaikan ibu bapa mereka...sampai di sini sahaja renungan ini..semoga kita semua sentiasa mememoh doa kepada allah agar dijauhi daripada perbuatan menderhaka kepada ibu bapa kita...dijauhi drpd memaki hamun mereka...aamiiinnn....
wallahualam....
hati pilu mendengar rintihan rasa seorang ibu dan seorang bapa....yang tinggalkan anak kandung mereka kerana keengganan untuk menjaga cucu..bukan disebabkan ibu bapa ini tidak sayang kepada anak serta cucu-cucu mereka,tetapi kerana ibu bapa ini sudah berusia senja...faktor kesihatan menjadi penghalang mereka untuk terus menjaga cucu-cucu tersayang mereka...tetapi malangnya ibu bapa ini ,apabila dimarahi oleh anak mereka sendiri..bukan sahaja dimarahi akan tetapi anak ini mengungkit perkara yang mengguris hati ibu bapa...sehingga sekarang anak tersebut langsung tidak mengendahkan ibu bapanya apatah lagi untuk menjaga ibu bapa yang sedang sakit...menziarah sahaja tidak mahu...hati ibu terguris....dek kerana tingkah laku anak ini..ibu menitiskan air mata tanpa henti siang dan malam..memaafkan tingkah laku anak yang membuatnya terguris hati...betapa mulianya hati seorang ibu...ayah terlantar sakit..menangis pilu megenangkan anak dan cucu..mengharap agar saat-saat akhir hayatnya ditemani anak serta cucu...akan tetapi...harapan hanya lah sia-sia...anak2 serta cucu tidak pernah menjejakkan kaki di rumah itu lagi...perbelanjaan ibu bapa ditarik balik....menyebabkan ibu bapa terpaksa berkerja untuk menyara kehidupan mereka seharian...beginikah sikap seorang anak terhadap ibu bapa mereka??????????ibu dan bapa boleh menjaga nak yang ramai tetapi anak yang ramai tidak boleh menjaga ibu dan bapa.........inikah balasan seorang anak kepada ibu bapa mereka??? melalui apa yang diperkatakan di atas jelas sekali dapat kita lihat seorang anak tidak berbuat baik terhadap ibu dan bapa mereka..anak ini memaki dan mengungkit segala apa yang pernah mereka berikan kepada ibu bapa mereka...sesungguhnya perbuatan tersebut adalah menderhaka kepada kedua ibu bapa..
agama islam menyeru kepada setiap umatnya supaya berbakti kepada ibu bapa mereka.ini adalah kerana:
- daripada merekalah kita dilahirkan
- kedua ibu bapa telah menaruh sepenuhnya kasih sayang dan telah mencurahkan segala tenaga untuk kebaikkan anak-anak..
- ketika masih kecil,merekalah yang memelihara dan menanggung kesusahan untuk membesarkan kita...
allah swt memerintahkan supaya mentaati kedua ibu bapa selepas perintah menyembah allah swt kerana:
- menunjukkan bahawa berbuat baik kepada ibu bapa itu penting selain daripada berbakti kepada kedua ibu bapa
- menunjukkan bahawa tidak ada pemberian yang sampai kepada manusia yang lebih baik daripada pemberian allah kemudian daripada ibu bapa
jelaslah bahawa perbuatan anak terbabit amat salah di sisi agama islam...bahkan agama2 lain turut menyuruh penganutnya agar tidak mengabaikan ibu bapa mereka...sampai di sini sahaja renungan ini..semoga kita semua sentiasa mememoh doa kepada allah agar dijauhi daripada perbuatan menderhaka kepada ibu bapa kita...dijauhi drpd memaki hamun mereka...aamiiinnn....
wallahualam....
Langgan:
Catatan (Atom)